Just another Fanfiction For You – ♥ 당신을 사랑합니다 모두 ♥

Twins Effect (Pt. 1)

Twins Effect

Starring:
Jung Krystal as Krystal & Krysten
Choi Minho as Minho

Prologue

“Krystal, kau menyayangiku kan?” tanya gadis kecil itu kepada saudari kembarnya. Krystal menatap saudarinya, seolah menatap dirinya sendiri, dan tersenyum. “Tentu saja.”
“Kau akan bersamaku dan mendukungku terus kan?” tanyanya lagi dengan tatapan penuh arti.
“Tentu,” jawab Krystal tulus.
Kedua kembar identik itu tersenyum lalu saling berpelukan. “Aku akan selalu mendukungmu, Krysten. Karena aku menyayangimu.”
“Aku juga.” Krysten tersenyum. “Karena kita satu.”
~*~

The Kingdom

Thor, Kerajaan yang cukup besar dipimpin oleh seorang raja yang beristri seorang Ahli Sihir. Sang Raja memiliki seorang putra dan dua orang putri – kembar. Yonghwa, putra pertama yang akan menggantikan posisi Ayahnya, Yunho, sebagai Raja Thor. Sedangkan adik kembarnya, Krysten dan Krystal, mewarisi kekuatan sihir Ibunya. Sang Permaisuri adalah salah satu keturunan klan Ahli Sihir terkuat di masa itu, ia sering membantu Raja disaat pertempuran. Namun ia telah tiada, Sang Permaisuri yang cantik jelita itu telah meninggal karena suatu penyakit yang telah lama di deritanya. Kekuatan sihirnya ia wariskan kepada putri kembarnya, sedangkan Yonghwa tidak memiliki kekuatan sihir apapun, namun ia mewarisi kehebatan dan kebijaksanaan sang Ayah.
Jauh bermil-mil dari Kerajaan, terdapat desa kecil yang damai bernama Bree. Sebuah ramalan yang disebutkan Oracle – Peramal – menyeret nama desa ini, seorang pemuda dari Bree yang akan menghancurkan kejahatan di Thor. Sang Raja tidak terlalu mempercayai perkataan Oracle karena ia tahu tidak akan ada pengkhianatan ataupun kejahatan selama ia masih ada di negeri-nya. Sayangnya, yang Raja tidak ketahui, kejahatan itu tersembunyi, di dalam diri seseorang yang ia sendiri tak akan sanggup melawannya. Kejahatan itu masih belum menunjukkan dirinya, menunggu di saat yang tepat dimana jiwa orang yang didiaminya dapat dikuasai. Dan saat itu hampir tiba…

-Present-
Seorang gadis berjalan terseok-seok di siang yang sedang hujan deras hari itu. Tudung yang menutupi gaun indahnya telah basah kuyup, air menetes dari ujung rambut hitamnya. Bibir gadis itu, bergetar, menggigil kedinginan karena hujan dan angin yang bertiup kencang. Matanya tak berhenti mengeluarkan air mata yang bersaing dengan air hujan yang membasahi wajahnya.
Pandangan gadis itu mulai kabur, ia tahu bahwa tenaganya mulai habis. Sempat ia terjatuh beberapa kali namun ia paksakan sisa-sisa tenaganya untuk melanjutkan perjalanan yang ia sendiri tak tahu kemana arahnya. Bibirnya yang mendesiskan kata-kata tak jelas telah membiru. Si gadis akhirnya kehabisan energi dan jatuh tergeletak di jalan setapak itu, berharap kematian menjemputnya.
~*~

Sang Raja tengah menatap kosong ke arah jendela. Rambut putihnya mengilat diterpa cahaya matahari. Wajah tuanya yang kurus selalu menunjukkan kesedihan dan kesengsaraan. Putra semata wayangnya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Sang pewaris Kerajaan, mati muda di medan pertempuran.
Pintu kamarnya terbuka dan seorang gadis cantik berambut hitam panjang menghampirinya. “Ayah,” si gadis memeluk Raja dari belakang dan mengecup pipinya. “Saatnya minum obat.” Gadis itu melepas pelukannya dan mengambil cawan yang berisi ramuan yang telah ia mantrai lalu meminumkan ke Ayahnya dengan hati-hati.
“Krystal?” panggil Sang Raja lemah. Gadis itu mendekat dan berlutut di hadapan Ayahnya. Tangannya menggenggam tangan Sang Raja lembut. “Ya Ayah?”
“Dimana Krysten?” tanyanya lagi. Mata sayunya menatap putrinya yang kini tersenyum. “Mungkin sedang bersama Profesor di perpustakaan. Ayah mau aku memanggilnya?”
Raja menggeleng lemah. “Kau tidak perlu mengurusku berlebihan seperti ini, aku bisa mengurus diriku sendiri.”
“Kalau aku membiarkanmu, Ayah tidak akan makan ataupun minum obat,” gadis itu berdiri sambil mengerucutkan bibirnya. “Istirahatlah Ayah.” Ia mengecup lembut dahi Ayahnya sebelum keluar dari kamarnya.
Ia baru menutup pintu kamar Ayahnya ketika seorang Jendral menghampirinya dengan wajah takut. Ia tersenyum manis melihat Jendral itu. “Bagaimana?”
“A..aku, maksudku, pa..pasukanku tidak berhasil m-menemukannya, Putri.” Jendral itu bicara dengan bibir yang gemetar. Gadis itu mengerucutkan bibirnya dengan wajah yang memelas. “Sayang sekali, kenapa Krystal pergi tanpa memberitahuku terlebih dahulu? Aku sampai harus berpura-pura menjadi dirinya ketika Ayah memanggilku dengan namanya.”
Sang Jendral hanya tertunduk menatap lantai, jelas sekali ia sangat ketakutan pada gadis di hadapannya. “Putri Krysten, apa ada yang harus saya lakukan lagi?” tanya Jendral masih gemetar.
“Tentu saja cari dia sampai ketemu, Jendral Onew. Itu kan tugasmu,” jawabnya. Badan Onew tiba-tiba serasa tertusuk ribuan jarum dengan sengatan listrik. Ia menutup matanya sambil mengernyit, menahan rasa sakit yang menyengat itu. Onew jatuh bersimpuh saat rasa sakit itu berhenti menyerangnya. Napasnya terengah dan keringat membanjiri wajahnya. “Baiklah kau boleh kembali ke tempatmu,” kata Krysten sambil tersenyum kecil lalu melenggang pergi meninggalkan Onew yang masih berlutut.
Seorang dayang istana berlari kecil menghampiri Onew. “Jendral, kau tidak apa-apa?” tanya dayang itu berlutut untuk mengelap keringat di wajah Jendral muda itu, lalu ia membantu Onew berdiri. Onew tidak menjawab apa-apa wajahnya pucat. “Mari kita ke dapur, akan kubuatkan ramuan herbal untuk membuatmu lebih baik.” Onew hanya mengangguk setuju dan berjalan sambil dibantu oleh sang dayang.
~*~

Gadis cantik itu membuka matanya, sesaat mengira bahwa ia sudah mati. Namun ketika ia melihat sekelilingnya, ia menyadari bahwa ia masih hidup. Ia berada di suatu ruangan yang tidak terlalu besar namun cukup hangat. Ia juga menyadari bahwa pakaiannya telah diganti dengan gaun sederhana.
Pintu kamar itu terbuka dan seorang wanita paruh baya muncul dengan membawa mangkuk berisi sup hangat. Mata wanita itu membesar, raut wajahnya menunjukkan kelegaan. Segera ia menghampiri gadis yang masih lemah itu. “Kau sudah sadar, Nona?”
Mendengar suara lembut wanita itu, si gadis mengira ia adalah ibunya. “Ibu,” ucapnya lemah, hampir seperti bisikan. Sebulir air mata mengalir dari ujung matanya, sebulir lagi, sebulir lagi, sampai akhirnya ia terisak. Wanita itu sedikit terkejut, namun ia memeluk si gadis dan menenangkannya, membiarkan pundaknya basah akibat air matanya. Rasa hangat menyergap tubuh wanita itu, demam gadis ini sudah agak menurun.
Cukup lama, akhirnya ia melepaskan pelukannya. Gadis itu dapat melihat dengan jelas sekarang. Ia agak terkejut bahwa wanita di depannya bukanlah Ibunya, sedangkan wanita itu tersenyum ramah pada si gadis. “Apa kau sudah merasa baikan?” tanya wanita itu. Si gadis mengangguk lemah. “Kau.. bukan Ibuku.”
“Memang bukan,” wanita itu tersenyum sambil menghapus air mata si gadis. “Anakku menemukanmu tergeletak di tepi jalan, ia lalu membawamu kesini.”
Gadis itu hanya terdiam. “Kau lebih baik makan dulu, aku sudah membuatkan sup untukmu, supaya demamnya turun.” kata wanita itu lagi. Ia lalu pelan-pelan menyuapi si gadis.
“Oh, aku belum memperkenalkan diri,” wanita itu tertawa kecil. “Aku Tiffany, kau boleh memanggilku Ibu. Itu juga.. kalau kau mau.”
Gadis itu menyunggingkan senyum tipis dan mengangguk. “Ibu.”
Tiffany kembali tersenyum yang – entah kenapa – membuat gadis itu merasa lebih baik. “Dan siapa namamu?” tanya Tiffany lagi.
“Namaku..” gadis itu sempat berhenti sesaat sebelum akhirnya melanjutkan, “Krystal.”
~*~

-Flashback-
Dua gadis kecil itu bermain di taman bersama dua dayang yang sedang menyisir rambut hitam tebal mereka. “Nona, beberapa hari lagi Raja akan kembali,” kata salah satu dayang.
“Benarkah?” gadis kecil bernama Krystal tampak sumringah. Si dayang mengangguk sambil menyunggingkan senyum.
“Pasti jumlah mereka lebih sedikit seperti biasanya,” ujar gadis kecil yang lain, Krysten.
“Apa maksud Nona?” tanya dayang itu, mengernyit.
“Kalau Ayah mau pergi, pasti membawa pasukan yang banyak. Lalu ketika pulang, jumlah pasukannya jadi lebih sedikit dari yang ia bawa,” jelas Krysten masih sambil memainkan bonekanya.
Keterkejutan terlihat jelas di wajah kedua dayang itu, mereka saling melirik satu sama lain. “Memangnya mereka kemana?” tanya Krystal polos.
“Ng.. itu-“
“Mati.” Potong Krysten. Mata kedua dayang itu membesar mendengar jawaban Krysten. “Nona!”
“Apa? Aku benar kan?” bela Krysten. Iris matanya agak menggelap, membuat kedua dayang itu tanpa sadar begidik ngeri.
“Benarkah?” Krystal tampaknya tidak terpengaruh dengan ketegangan yang terjadi. “Kalau begitu mari kita doakan agar mereka beristrirahat dengan tenang.” Krystal menangkupkan tangannya, menunduk dan memejamkan mata sambil bergumam sesuatu. Melihat saudarinya sepert itu, Krysten ikut menangkupkan tangan, menunduk, memejamkan mata dan menggumamkan doa-doa. Sedangkan kedua dayang saling melirik satu sama lain, masih merasakan keanehan pada kedua anak kembar itu.

-Present-
Oracle berjalan menusuri koridor istana, hendak merebahkan diri di ruangannya begitu selesai mengadakan rapat dengan anggota dewan istana. Langkahnya terhenti begitu melihat seseorang berdiri sejauh 3 meter di depannya. Krysten tersenyum melihat Oracle yang menyadari keberadaan dirinya. “Hai,” sapanya.
“Putri Krysten.” Sang Oracle sedikit menunduk, meletakkan tangan di dadanya, memberi rasa hormat. Krysten menghampirinya, sedangkan wanita tua itu masih mematung di tempatnya berdiri.
“Bagaimana rapatnya? Menghasilkan sesuatu yang baik?” tanyanya masih dengan senyum yang terukir di wajahnya.
Oracle menatapnya tanpa ekspresi. “Kami masih belum mendapat solusi. Kepergian Putri Krystal yang sangat tiba-tiba dan masalah pewaris Kerajaan masih diperdebatkan. Kita masih beruntung, tidak ada perang dalam waktu dekat. Thor sedang melemah, dan jika musuh sampai tahu, akan jadi kesempatan mereka untuk menyerang.”
“Oh,” Krysten tampak kecewa. “Apakah kau mendapat penglihatan kemana Krystal pergi? Aku sangat merindukannya.”
“Kenapa kau tidak mencarinya sendiri? Kalian kembar, tentu kalian memiliki koneksi bukan?”
“Ya aku tahu. Tapi ia ber-Disapparate* ke tempat yang jauh, koneksi kami seperti terganggu atau semacamnya, jadi aku tidak bisa menemukannya.” Krysten memasang wajah memelas, walaupun ia tahu Oracle tidak akan terpengaruh oleh wajahnya itu. Oracle tidak menyukainya, setidaknya begitu yang ia pikir. Ia juga tidak menyukai wanita tua itu, tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya, tidak seperti Oracle yang seakan menunjukkan kebenciannya pada Krysten.
“Koneksi akan kuat jika ia berada di tempat atau wilayah yang sama dengan tempat kelahirannya. Jika ia masih di dalam daerah kekuasaan Thor, maka koneksimu tidak akan terganggu. Tapi mendengar ceritamu, sepertinya ia amat jauh dari Thor.” jelas Oracle.
Krysten mengernyit. “Begitu.” ia menghembuskan nafas berat. “Kenapa ia pergi secara tiba-tiba? Apa ia tak sayang lagi denganku dan Ayah?”
“Kurasa karena ia telah mengetahui sesuatu. Yang tidak baik.” Oracle memberi penekanan di akhir kalimatnya yang membuat ekspresi Krysten mengeras. Ia kini memandang Oracle dengan tatapan dingin.
“Apa itu?” nada suaranya menantang. Oracle tetap tenang, ia mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu.”
Seulas senyum mencuat di bibir Krysten, tatapannya tampak menghina. “Sangatlah tidak mungkin seorang Oracle tidak mengetahui sesuatu.”
“Aku hanya mendapat pengelihatan, Tuan Putri. Aku bukan Yang Maha Tahu,” Oracle merendah.
Krysten mendengus. “Benarkah? Lalu bagaimana dengan ramalanmu yang menyebutkan tentang seorang pemuda dari tempat nun jauh disana itu? Kurasa kau hanya main-main saja kan?”
“Oh, dia akan datang, Tuan Putri. Ia akan menolong Thor, menolong kita semua, termasuk menolongmu dan Putri Krystal.”
Bola mata Krysten membesar seakan keluar dari pelupuknya. “Tidak ada yang harus ditolong. Dan Thor tidak butuh pertolongan.” Krysten berkata sambil mengatupkan rahangnya, lalu pergi meninggalkan sang Oracle yang masih berdiri di tempatnya.

~*~

Krystal merasakan tenggorokannya sangat kering, ia butuh air. Gelas di sebelah tempat tidurnya kosong, ia terpaksa bangun untuk mengambil air di dapur. Suasana rumah pagi itu tampak sunyi, mungkin Tiffany masih tidur. Ia tersentak ketika melihat seorang pemuda sedang duduk memakan sarapannya di dapur.
“Oh.” Pemuda itu juga tampak terkejut dengan kehadiran Krystal. “Selamat pagi, kau sudah bangun? Ibuku sudah membuatkan sarapan. Makanlah.” Pemuda itu tampak canggung.
Krystal hanya mengangguk, masih memperhatikan pemuda itu. Ia cukup tampan dengan mata bulatnya dan alis yang tebal. Tubuh si pemuda tinggi tegap, lengannya juga agak berotot. Mendengar ia mengatakan ‘Ibu’ mungkinkah ia anak Tiffany yang menolongnya? “Kau..”
“Oh, aku Minho. Aku yang membawamu kemari,” ujarnya memperkenalkan diri.
“Aku Krystal,” balasnya malu-malu. “Terima kasih sudah menolongku.”
Minho mengangguk, matanya tidak lepas dari gadis di depannya. Ia pasti bukan gadis biasa, pikirnya. Mungkin ia bangsawan atau semacamnya, mengingat pakaian yang dikenakannya saat Minho menolongnya kemarin. Tutur bahasanya juga berbeda, lembut dan sopan. Meskipun gadis-gadis di desanya juga bertutur lembut dan sopan, namun caranya berbeda, ia lebih… intelektual mungkin?
“Minho,” Krystal membuyarkan pemuda itu dari lamunannya. “Boleh aku minta air? Aku haus.”
Minho dengan sigap langsung menuangkan segelas air di teko dan memberikannya pada Krystal.
“Terima kasih.” Ujarnya sambil tersenyum. Minho lalu mengambilkan sarapan untuk Krystal, dan menarik kursi agar gadis itu duduk, membuat gadis itu mengucapkan ‘terima kasih’ untuk kesekian kali. Ia cukup memiliki manner untuk seorang pemuda desa, pikir Krystal.
Minho lalu duduk di seberang Krystal, kembali memakan sarapannya. Kecanggungan mewarnai acara makan pagi itu sampai akhirnya Minho memecah keheningan.
“Jadi, Krystal,” katanya. “Darimana kau berasal?”
Krystal menekan bibirnya, awalnya ia ragu, namun akhirnya ia menjawab, “Thor.”
“Thor?” Minho terlihat bingung. Krystal mengangguk. “Belum pernah dengar, dimana itu?”
“Kau tidak tahu Thor?” Krystal balik bertanya. Minho menggeleng, “Tidak.”
“Memangnya, dimana aku sekarang?” kini giliran Krystal yang tampak bingung.
“Kau ada di sebuah desa kecil yang sangat jauh dari kota,” jawab Minho. “Kau ada di Bree.”

To be continue

(*disapparate: kemampuan penyihir berpindah tempat, bahkan ke tempat yang jauh sekalipun, namun memerlukan banyak energi untuk tempat yang jauhnya puluhan mil.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s